HUKUM MENERIMA TIKET HAJI ATAU UMROH GRATIS

HUKUM MENERIMA TIKET HAJI ATAU UMROH GRATIS

HUKUM MENERIMA TIKET HAJI ATAU UMROH GRATIS

            Pertanyaan:

Musim haji telah tiba, waktu yang ditunggu-tunggu oleh para CJH (calon jamaah haji) akhirnya sudah sampai pada waktunya. Penantian panjang akhirnya menghasilkan rasa bahagia, tentu karena sebentar lagi mereka bisa menyempurnakan rukun Islamnya. Bahkan, kadang tanpa diduga dan terencana, tiba-tiba saja ada sebagian orang yang bisa berangkat haji atau umrah lantaran ada yang mau menanggung biayanya atau ia mendapatkan tiket haji gratis dan semacamnya. Dalam keadaan demikian bolehkah orang tersebut menerima pemberian biaya atau tiket gratis, seperti mendapatkan hadiah tiket haji atau umrah? Dan apa sudah dianggap memenuhi kewajiban beribadah haji jika menggunakan pemberian atau tiket haji geratis?

Jawaban:

Sebagaimana telah umum diketahui oleh semua lapisan umat Islam, bahwa salah satu syarat untuk terkena kewajiban melaksanakan ibadah haji harus dalam keadaan mampu secara fisik dan finansial, sehingga jika salah satu saja tidak terpenuhi, maka gugurlah kewajiban untuk melaksanakan ibadah haji.

Kewajiban mampu dari sisi finansial sejatinya ditujukan untuk menjaga diri para CJH serta untuk memenuhi kebutuhannya saat dalam perjalanan dan pelaksanaaan ibadah. Sehingga wajar, ketika belum memiliki biaya yang cukup tidak ada kewajiban bagi setiap orang untuk menunaikan ibadah haji.

Lalu, sebagaimana pertanyaan di atas, saat ada donatur atau orang dermawan yang hendak memberikan biaya sebagai pembayaran dan kebutuhan-kebutuhan ibadah haji, haruskah diterima atau tidak?!. Dalam hal ini bisa kita lihat komentar Imam Ibn Hajar dalam kitabnya Minhajul Qawim sebagaimana berikut:

التاسع: أن يجد ما مر من الزاد ونحوه بمال حاصل عنده فلا يلزمه اتهابه ولا قبول هبته لعظم المنة فيه

“Syarat kesembilan: Bekal dan kendaraan (untuk perjalanan menuju kota Mekkah) harus berasal dari dirinya sendiri, sehingga tidak wajib baginya untuk mencari pemberian (meminta) atau pun menerima pemberian karena besar kemungkinan adanya rasa minnâh (mengungkit-ungkit)”

 

            Bisa kita lihat dengan jelas bagaimana komentar Imam Ibn Hajar di atas. Dan mayoritas Ulama Syafiiyah memang lebih menganjurkan untuk tidak menerima bantuan biaya dalam melaksanakan ibadah haji, sekali pun itu dari anaknya sendiri, bahkan menurut Imam Al-Kurdi–yang pendapatnya di-nukil di dalam kitab Fath al Alam – melaksanakan ibadah haji menggunakan biaya pemberian orang lain hukumnya makruh. Namun, meski demikian ada qaul kedua yang menyatakan boleh untuk menerima pemberian dan digunakan untuk melaksanakan ibadah haji, alasannya karena dengan demikian orang tersebut sudah distatuskan sebagai orang yang mmampu (lihat: Al Mahalli, juz: 1, hal: 164).

            Lebih lanjut lagi, ada pertimbangan menarik yang ditawarkan oleh Imam Abdul Wahab as-Sya’rani dalam kitabnya Al-Mizan al-Kubro, beliau mengemukakan pendapat Imam Malik yang berbeda dengan tiga imam madzhab lainnya, dan diakhir nukilannya, beliau berkomentar bahwa hukum makruh menerima pemberian adalah ketika orang yang diberi termasuk orang yang memiliki muru’ah, seperti kiai, ulama dan orang-orang salih. Sebaliknya, bila memang bukan orang yang memiliki muru’ah dan memang ia tidak memiliki biaya yang cukup, maka boleh-boleh saja untuk menerima pemberian orang lain untuk biaya kebutuhan ibadah haji (lihat: Al-Mizan al-Kubro juz: 2, hal: 31).

Adapun hadiah tiket haji atau umrah gratis, boleh diambil, karena hal demikian ini termasuk hak yang diperoleh atas jerih payah melakukan sesuatu yang bisa mendapatkan hadiah bila sukses melakukannya.

            Sedangkan ibadah haji yang dilakukan dengan menggunakan biaya yang dihasilkan dari pemberian atau tiket gratis itu sudah bisa dianggap sah bila memang rukun hajinya bisa dipenuhi semuanya. Karena masalah kemampuan untuk biaya hanya urusan terkenai kewajiban dan tidaknya, sedangkan urusan sahnya ibadah haji tidak melihat pada kaitan tersebut.

            Walhasil, menerima pemberian biaya atau tiket gratis sebaiknya dihindari bila memang ada ke-khawatiran akan adanya minnâh (mengungkit-ungkit kebaikan) dikemudian hari. Bila memang tidak ada ke-khawatiran yang demikian, seperti mendapatkan tiket gratis dari hasil jerih payah; semisal lomba atau karena pernah memberi jasa sesuatu yang berharga, maka tidak masalah untuk diterima, dan konsekuensinya ia harus berangkat dengan menggunakan pemberian tersebut. Sedangkan keabsahan ibadah haji atau umrah tidak berkaitan dengan urusan biaya yang dimilikinya. Sekian, Waallahu A’lam..!

 

Referensi:

Ibn Hajar, Minhaj al Qawim

Jalaluddin al Mahalli, Al Mahalli

Abdul Wahab as Sya’rani, Mizan al Kubro

 

Tabik: M. Syafiuddin (Sekretaris LBM M3B)