SANTRI DAN LITERASI YANG SELALU BERMESRAAN

Selasa, 16 November 2021 23:13:49 - Posting by Artikel - 21 views

SANTRI DAN LITERASI YANG SELALU BERMESRAAN

Santri dan literasi laksana saudara kembar yang tak bisa dipisahkan. Saben hari mereka bergumul dengan bacaan. Sebagai teman sejati, siwak, tasbih, pena, dan buku catatan kecil selalu mengisi kantong baju mereka yang berwarna kecoklat-coklatan walaupun warna aslinya adalah putih. Biasa, mereka lupa cuci baju karena sibuk bermesraan dengan buku-buku pelajaran. Buku ini mereka sebut dengan istilah kitab gundul. Namun, bukan seperti gundulnya Kang Maman Suherman. Iya, kang Maman yang itu, yang sering membagikan al-Qur'an, al-Kitab, dan buku-buku lewat JNE itu, bukan, bukan seperti kang Maman, hehehe, melainkan gundul; yakni abjad Arab yang  bersih dari harakat dan makna.

Walaupun demikian, mereka ajek konsisten membacanya, tetap bermesraan setiap hari, bahkan setiap waktu. Alasan mereka simpel, mereka tahu bahwa untuk memajukan bangsa Indonesia harus bermesraan dengan literasi. Dan bersukacita dalam membaca teks-teks "gundul" kemudian menuliskannya kembali dalam bentuk tulisan kreatif merupakan manifestasi dari kemesraan dengan literasi.

Semua itu, bersukacita dalam membaca Abjad Arab gundul, tidak datang begitu saja. Perasaan dan kemesraan tersebut mereka bangun dengan susah payah dan keuletan. Tidak mudah untuk menuju ke sana. Rasa malas, bosan, dan rindu orang tua merupakan perasaan yang sering menggoda. Saat mereka bermesraan, bercinta dengan kitab-kitab gundul yang tertata di rak lemari perpustakaan, terkadang perasaan tersebut datang tanpa diundang. Perasaan tersebut layaknya wanita lain yang sadang mengganggu mereka yang lagi asyik pacaran; beromtisan dengan kitab gundul.

Tapi, dengan sebab pengetahuan mereka, penggoda tersebut berhasil diusirnya dengan baik. Mereka tahu bahwa perasaan itu, kalau diterima, diturutin, perasaan pacarnya akan tersakiti. Buku gundul tersebut tidak akan mau lagi, akan menghilang, digantikan oleh penggoda. Di samping itu, mereka juga punya amunisi lain untuk menahan rasa suka pada pacar pertama; kitab gundul. Amunisi tersebut adalah ajaran seorang guru, bahwa perintah Tuhan yang pertama kali turun bukan beribadah, shalat, puasa, atau ibadah lainnya, melainkan perintah untuk membaca dan kemudian dituangkan lewat pena.

Iqra! Iqra! Iqra!; bacalah! Lalu uktub! Tulislah!

 

Oleh: Syifaul Qulub Amin.